Perjalanan 4 9 11 bersama Bucheck

04 September 2011. Hari itu banyak hal yang terjadi. Pagi buta aku terbangun pukul 05.27 WITA. Waktu bangun tercepat semasa hari libur. Maklum, katanya otak di set seperti kebiasaan. Karena kebiasaan pada saat libur bulan puasa saya tidur sampai jam 09.00 WITA setelah saya sahur dan sholat subuh maka dari itu mataku masih terasa berat  terbuka saat itu. Apalagi pada malam minggu saya begadang di rumah teman SMA sampai pukul 01.06 WITA. Dia adalah ketua kelasku di SMA dulu. Kami selalu kumpul di rumahnya apabila ada kesempatan ngumpul. Saat ini kami semua Mahasiswa, apalagi seperti Iccank yang kuliah di ITB, khaeril di UNHAS, Askar dan Ammar di UIT, dan Anto di UMI dan seorang teman kelas di SMA yang lebih beruntung dari kami semua adalah  Aswar. Aswar sudah bekerja di perusahaan LPG Bantaeng. Oleh karena itu dialah yang mendanai acara reunian malam itu.  acara reunian sambil bakar-bakar ikan tembang(bahasa Makassar) menandai perpisahan kami usai libur semester. Hal ini pula yang membuatku susah bangun pada pagi itu. Untung saja ada handphone yang sudah aku setting alarmnya supaya aku dapat bangun lebih cepat dan berangkat ke Makassar.

Terbangun sambil meraba saku celana dan jaket. Hari itu aku menghilangkan flash disk adikku. Aku mencari di sekeliling tempat tidur. Waduh… bisa ngamuk adikku kalau dia tahu flash disk miliknya hilang. Aku selalu mengkhilangkan barang di sekitarku apalagi yang ukurannya mini seperti flash disk. Flash disk ku saja sudah 3 unit yang hilang entah kemana. Aku mencari sambil merapikan barang bawaan ke Makassar. Setelah aku rapikan pakaian dan laptop dan beberapa barang lainnya, aku lekas pergi ke rumah Iccank siapa tahu flash disk itu tertinggal di sana. Tapi kenyataannya tidak seorangpun yang tahu flash disk itu dimana. Huft… awal pagi yang rumit. Yah… aku lupakan soal FD adikku karena aku harus berangkat pagi itu juga bersama Bucheck. Bucheck adalah teman kuliahku di Universitas Negeri Makassar. Aku sudah mengajaknya untuk berangkat bareng ke Makassar.

Berat rasanya untuk meninggalkan rumah walaupun kampung halaman cukup dekat karena aku dapat pulang dalam waktu 3 jam dengan kendaraan roda dua(kata iman). Dia berkata “aku dapat pulang beberapa kali dalam satu semester dari pada dia yang harus mengarungi laut selama 14 jam untuk sampai ke Bau-Bau yang membuatnya hanya pulang sekali dalam satu semester”. Tapi walaupun Iman berkata demikian aku tetap berat meninggalkan rumahku apalagi aku harus meninggalkan kemanakan perempuanku yang bernama Aqila. Bayi perempuan dari kakak tertuaku ini membuatku betah berada di rumah selama bulan Ramadhan.

Pagi itu aku pamit hanya dengan ayah dan ibu. Saya rasa yang lain masih tidur. Dengan menggendong tas yang berisi laptop dan menjinjing tas pakaian saya angkut barang bawaan ke sepeda motor yang saya akan pakai ke Makassar. Saya berangkat sekitar pukul 06.00 setelah menjemput Bucheck dan pamit dengan orang tuanya. Selang beberapa menit dalam perjalanan kami sudah tiba di pasar Tarowang. Seperti biasa pasar itu adalah pasar mingguan yang setiap hari minggu pasar itu membuat macet pengguna jalan. entah area pasar yang tidak kondusif, pengguna pasar seperti supir pete-pete(angkot) yang parkir di bahu jalan, atau tidak adanya petugas yang mengatur tertibnya lalu lintas di pasar itu. Dengan perlahan tapi pasti kami melewati pasar tersebut bersama pengguna jalan lain. petak-petak sawah kering terlihat di sisi kiri dan kanan. Sawah di sekitar jalan itu merupakan sawah tada hujan yang hanya panen sekali setahun. Terik matahari dan jalan raya yang rusak kanan-kiri seperti lapisan agar-agar yang memiliki kubangan di mana-mana. Karena jalan yang rusak, kami merasa getaran periodik yang menggetarkan sampai ke ubun-ubun. kata bucheck “getaran itu merangsang kita untuk buang air kecil” sambil tertawa.

Kabupaten Jeneponto memiliki area yang cukup luas. Jeneponto memiliki jalan raya yang lumayan panjang hingga membuat bosan para pengguna jalan. Apalagi pemandangan sepanjang jalan tidak begitu indah menurutku. Kira-kira setengah perjalanan kami memutuskan singgah di Tamanroya. Tempat singgah bagi orang-orang yang ingin ke Makassar. Di tempat ini tersedia berbagai macam makanan seperti songkolo(beras ketan yang dikukus), gogosok(lemper), bayao kannasak(telur asin), dan masih banyak aneka menu pilihan. Hampir setiap orang yang hendak ke Makassar pasti singgah di tempat itu untuk istirahat, buang air kecil dan makan. Pada kesempatan itu saya makan songgkolo 4 dan segelas air mineral Sedangkan Bucheck makan songkolo(beras ketan yang dikukus) 2, jalangkote(pastel) 2 dan 1 air mineral. Makanan itu sudah cukup untuk mengganjal perut kami.

Kami lanjutkan perjalanan hari itu sekitar pukul 08.00 WITA. Jarum penunjuk kondisi bahan bakar menunjukkan kami harus mencari Pertamina. Setelah melewati lahan pembuat garam di Jeneponto kami singgah di Pertamina untuk mengisi bahan bakar. Antrian yang cukup panjang mebuat Bucheck harus menunggu sedikit lama. Setelah bahan bakar terisi kembali, kami lanjutkan perjalanan hingga mencapai batas kabupaten Jeneponto-Takalar. Terlihat penjual semangka di sisi jalan. kabupaten takalar memiliki tanah yang cukup subur untuk menanam buah seperti semangka. Maka dari itu hampir 1 km sepanjang sisi jalan terdapat pondok-pondok yang menjual buah semangka. Setelah melewati batas kota Takalar, saya tiba di tempat kelahiran ayah saya yaitu Biring Balang di kabupaten takalar. Saat saya melewati rumah nenek di takalar saya hanya melihat sekumpulan anak bermain di depan toko kecil nenekku. Perjalanan terasa cepat hingga kami sampai di batas kota kabupaten Takalar-Gowa.

Suasana jalan mulai sesak oleh kendaraan roda dua dan empat. Kami sampai di Jembatan Kembar sungai je’nek Berang. Setelah melewati jembatan itu kami melewati perempatan jalan. saya rasa kecepatan motor pada saat itu tidak terlalu cepat. Tapi entah bagaimana tiba-tiba terjadi kecelakaan kecil. Sebuah sepeda motor yang di kendarai laki-laki yang kira-kira berumur 40 tahun dan istrinya menabrak sepeda motor saya dari samping kanan. Saya sontak kaget begitupun Bucheck. Saya tidak tahu apakah saya beruntung atau sial pada saat itu karena dengan kecepatan kondisi motor yang di tabrak tengah dari samping kanan tidak membuat kami jatuh. Mungkin karena berat barang di sepeda motor yang lebih dari biasanya sehingga membuat motor bapak itu terpental kebelakang atau Allah masih melindungi kami. Karena panik atau takut pada saat itu saya tidak menghadap ke belakang untuk melihat kondisi bapak itu. Saya menarik gas motor hendak kabur secepatnya dari tempat kejadian. Lain halnya dengan Bucheck yang saat itu saya bonceng bersamaku. Dia berbalik menghadap ke belakang melihat kondisi bapak itu. Aku juga kasihan padanya tapi aku merasa tidak bersalah karena dia juga yang datang tiba-tiba lalu menabrak sisi kanan motorku. Kata bucheck “takpintalaki itu bapak-bapak surang istrina, ammopangi ri a’runganga kodong” berkata dengan dialek orang Makassar sambil cemas memikirkan kejadian itu. Setelah kami melewati kejadian itu saya bertanya kepada Bucheck “kenapa jako? Tidak apa-apa jako?” sambil melihat keadaan sisi motor. Bucheck berkata “sendalku… sendalku a,lanyaki sendalku” sambil menepuk bahu kananku. Aku bingung kenapa bisa sendalnya Bucheck jatuh pada saat terjadi kecelakaan. Mungkin dia kaget dan tidak sengaja sendal itu terlepas dari kakinya. Saya bertanya “angngura kulle?”. Dengan bingung Bucheck menjawab “tanrek tong kuissengi”. Bucheck berfikir untuk kembali ke tempat kecelakan tapi kami takut nanti masalahnya buhan hanya sendal yang hilang tetapi kami terancam berurusan dengan hukum. Dengan mengucapkan Alhamdulillah karena kami tidak apa-apa kecuali sendal yang hilang, kami melanjutkan perjalanan. Bucheck ingin secepatnya membeli sendal baru pengganti sendalnya yang hilang. Aku merasa bersalah karena aku juga turut bersalah dalam hilangnya sendal Bucheck tetapi aku tertawa kecil dalam hati melihat bucheck yang hanya memankai sendal di kaki kirinya.

Kami tiba di kota Makassar dengan selamat. Saya membawa Bucheck ke toko EIGER terdekat. Setelah sampai di depan toko, Bucheck malu dengan kaki yang hanya memakai sendal sebelah masuk di toko itu. Saya berkata “tidak apa-apaji, ayomi! Ato mauko pakaiki sendalkku dulu” memanggil bucheck. Akhirnya bucheck masuk ke toko dengan telanjang. Telanjang kaki maksudnya. Kami melihat macam-macam bentuk sendal dan mencocokkan beberapa yang kami pilih. Salah seorang cewek pegawai toko berkata “manai sendalta kak?” mungkin dia heran kenapa hanya Bucheck yang masuk ke toko itu dengan telanjang kaki. Saya menjawab “langsungji mau di pakai tawwa mbak”. Mbak itu tidak tahu kalau kami baru saja mendapat kecelakaan yang menghilangkan sendal bucheck.

Setelah Bucheck selesai memilih dan membeli sepasang sendal, kami melanjutkan perjalanan ke rumah kos Bucheck yang sudah dekat. Selang beberapa menit kami tiba di kos dan merapikan barang bawaan. Saya memutuskan untuk singgah di kos bucheck untuk istirhat sebelum saya kembali ke kos saya yang jaraknya cukup dekat dengan kos Bucheck. Karena perjalanan yang melelahkan, setiba di kos Bucheck kami langsung istirhat. Tidur pulas sampai ada seseorang yang mengetuk pitu kamar kos Bucheck. Ternyata Iman sudah tiba di Makassar jam 10.00 pagi tadi. Dengan senyum khas ala Iman dia menyapa kami. Kami berbagi cerita tentang perjalanan ke Makassar. Saya rasa kami harus istirahat banyak mala mini karena besok kuliah perdana di semester III.

Sekali lagi maaf kepada bapak yang jatuh karena saya.

Wassalam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s